Kedudukan Doa dalam Islam

Tidak ada sesuatu yang lebih mulia dihadapan Allah, selain daripada do’a. Do’a itu adalah otaknya ibadah

“Sudah rajab, Ramadhan sebentar lagi, Assalamu’alaikum wr.wb. Allâhumma bârik lanâ fî rajabin wa sya`bân, wa ballighnâ syahra ramadhân, wa a`inna `alash shiyâmi wal-qiyâmi wa hifzhil lisân wa ghadhdhil bashir, walâ taj’al hazhzhanâ minhul jû`a wal-`athasy.
[Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan. Bantulah kami untuk melaksanakan puasa, melakukan shalat malam, menjaga lisan dan memelihara pandangan; dan jangan jadikan puasa kami hanya sekedar lapar dan dahaga.]”

Ketika berselancar kepada bebarapa teman di blogger, ternyata sedang marak tulisan tentang doa rajab dan menjemput ramadhan. Sebut saja artikel yang menjadi headlinenya www. ghuroba.blogsome.com di atas.
Beberapa hari Kemarin seorang sahabat meng sms dan mengirim doa “bârik lanâ fî rajabin wa sya`bân, wa ballighnâ syahra ramadhân [Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.]”

Ketika membaca sms di atas, saya sedang membaca buku Bunga Rampai Pemikiran Islam karya Muhammad Ismail Bab Doa. Jadi, Mari sedikit kita mengaji tentang doa dari beliau yuk!

Do’a adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhannya. Do’a merupakan aktifitas ibadah yang paling agung. Imam Tirmidzi telah meriwayatkan dalam sebuah hadits yang berasal dari Anas ra : “Do’a itu adalah otaknya ibadah.” (HR. Tirmidzi)

Terdapat banyak riwayat dari Nabi Saw yang menganjurkan dan mendorong seseorang untuk berdo’a, seperti antara lain : “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia dihadapan Allah, selain daripada do’a.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

“Siapa saja yang tidak mau memohon (sesuatu) kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah)

“Mintalah kepada Allah akan kemurahan-Nya, karena sesungguhnya Allah senang bila dimintai (sesuatu).” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Majah)

“Sesungguhnya do’a itu dapat member manfaat (bagi pelakunya) untuk sesuatu yang telah terjadi. Maka wahai hamba Allah, lakukanlah do’a itu.” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Umar)

“Tidak ada seorang muslim pun di muka bumi ini yang berdo’a kepada Allah, kecuali akan dikabulkan do’anya, atau dijauhkan suatu keburukan/musibah yang serupa.” (HR. Tirmidzi dan Hakim dari Ubadah Ibn Shamit)

“Tidak ada seorang muslim pun yang bardo’a dengan do’a yang tidak mengandung dosa dan memutuskan hubungan silaturahmi, kecuali Allah akan memberikan kepadanya satu dari tiga hal: dikabulkan do’anya; ditangguhkan hingga hari kiamat; atau dijauhkan dari suatu keburukan/musibah yang serupa.” (HR. Ahmad dari Abi Said Al Khudri)

Semua hadits di atas menunujukan adanya keharusan berdo’a yang berupa permohonan hamba kepada Tuhannya untuk mendapatkan sesuatu. Dalam Al Qur’an terdapat banyak ayat yang menunujukan adanya do’a, antara lain: “Dan Tuhanmu berfir man: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.” ( Al Mukmin 60 )
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdo’a kepada-Ku.” (Al Baqarah 186 )
“Atau siapakah yang nenperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khlifah (berkuasa) di bumi “? (An Naml 62 )

Tentang do’a malaikat, Allah SWT berfirman:
“(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilignya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampunan bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu. Maka, ampunilah orang-orang yang bertaubat yang mengikuti jalan-Mu, dan peliharalah mereka dari siksa api neraka yang menyala-nyala.

Ya Tuhan kami, masukanlah mereka kedalam seuga-surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka bersama orang-orang yang shaleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Al Mukmin 7-8 )

Allah SWT telah memerintahkan kita agar berdo’a kepada-Nya, juga telah menjelaskan bahwa hanya Dialah yang dapat mengabulkan Do’a. Bukan yang lain. Allah juga memaparkan bahwa sebagian dari do’a dilakukan oleh malaikat-Nya. Maka, Allah menganjurkan kepada setiap muslim agar berdo’a kepada-Nya, baik disaat sempit maupun lapang, di dalam hati, maupun terang-terangan, sehingga ia memperoleh pahala dari Allah.

Berdo’a itu lebih baik daripada diam atau berserah diri. Hal ini berdasarkan banyaknya dalil yang menunjukan, juga karena berdo’a adalah manifestasi dari kepatuhan dan ketundukan kepada Allah SWT. Akan tetapi, patut di ketahui bahwa do’a tidak dapat merubah sesuatu yang termasuk ilmu Allah; tidak dapat menolak qadha; tidak dapat mencabut qadar serta ridak dapat menghasilkan sesuatu di luar sebabnya.

Karena Ilmu Allah adalah ketetapan pasti, qadha Allah adalah sesuatu kenyataan dan pasti terjadi , kalau saja qadha dapat di tolak oleh do’a, tentu tidak ada qadha. Dan qadar pun telah diciptakan oleh Allah, sehingga ia tidak bisa dicabut oleh do’a. Allah telah menciptakan hukum sebab – akibat, dijadikan-Nya sebab supaya dapat melahirkan musabab (akibat) dengan pasti. Jika tidak menghasilkan musabab tertentu, berarti ia bukan sebab.

Oleh karena itu, tidak boleh dijadikan keyakinan bahwa do’a itu satu-satunya jalan untuk memenuhi kebutuhan, sekalipun misalnya Allah mengabulkannya sehingga kebutuhan seseorang terpenuhi. Sebab, Allah telah menciptakan aturan-aturan untuk manusia, alam semesta, dan kehidupan, dimana ketiganya tunduk pada aturan-aturan itu. Allah pun mengingatkan sebab dengan musabab. Sehingga do’a tidak memiliki pengaruh untuk mengubah atutran-aturan Allah, atau keluar dari hukum sebab-akibat yang telah dibuat-Nya.

Tujuan berdo’a tidak lain semata-mata untuk memperoleh pahala dari sisi Allah, sebagai peklaksanaan dari perintah-Nya. Do’a adalah satu diantara jenis-jenis ibadah, sama dengan ibadah-ibadah lainnya seperti shalat, shaum, zakat, dan sebagainya. Maka, seorang mukmin tentu akan berdo’a kepada Allah dan memminta kepada Allah untuk dipenuhi kebutuhannya, atau untuk menjauhkan dari rasa sedih, atau hal-hal lainnya yang berkaitan dengan urusan duniawi atau akhirat.

Do’a dilakukan sebagai bukti ketundukan kepada Allah dan usaha manusia untuk mendapatkan pahala dari Allah, sekaligus melaksanakan perintah-perintah-Nya. Apabila kebutuhannya terpenuhi, maka itu adalah anugrah dari Allah. Pemenuhan itu pun sesuai (sajalan) dengan aturan-aturan Allah serta berjalan diatas dasar-dasar peraturan sebab-akibat. Jika kebutuhannya tidak dipenuhi, maka tetap mendapatkan pahala.

Berdasarkan penjelasan tadi, do’a bagi seorang muslim, hendaknya merupakan tanda ketundukan kepada Allah, sebagai pelaksanaan perintah-Nya, dan usaha memperoleh pahala dari Allah SWT. Sama saja apkah permohonannya terpenuhi atau tidak. Boleh saja seorang muslim berdo’a dengan bentuk do’a apa pun yang dikehendakinya; baik di dalam hati, diucapakan melalui lisan, atau dengan kalimat apa pun, dan ia tidak terikat dengan bentuk do’a tertentu. Ia boleh berdo’a dengan do’a-do’a yang tercantum dalam Al Qur’an, hadits, dengan bentuk redaksinya sendiri-sendiri atau dengan mengambil do’a yang berasal dari orang lain. Yang penting, ia dituntut untuk berdo’a kepada Allah. Namun demikian yang lebih utama, tentulah bentuk do’a sebagaimana yang tercantum dalam Al Qur’an dan Hadits.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: