SEKAPOER SIRIEH

Sebagai pendahulu dari redaksional komunitas ini marilah kita sejenak menyimak, menelaah, dan menmahami pendapat ahli pikir yang berkaitan dengan PANDANGAN HIDUP MUSLIM. beliau berkata :
“Ilmu pengetahuan yang terputus hubungannnya dengan Iman menyebabkan bagaimanapun ramainya dunia ini, dia merasa hidup sendirian, tak ada hubungan dengan orang lain. Sepi terpencil mengurung diri, tak tentu arah tujuan mana yang akan ditempuh, tak ada hari esok tuk di songsong”.

Sebagian besar dari kita cendrung memaksakan salah satu diantara dua unsur yakni iman dan islam. Kedua unsur tersebut merupakan target akhir dari seorang muslim dan hal tersebut tak perlu dinafikan, dan wajib adanya. Namun pada satu sisi, kedua unsur tersebut mustahil akan terwujud bilamana satu unsur pendukung yang merupakan syarat mutlak untuk mencapai tujuan tersebut belum terpenuhi. Unsur pendukung tersebut adalah ILMU. Tidak mungkin orang dikatakan beriman bila ia tidak berilmu dan tidak pernah ada orang islam bilamana ianya juga belum berilmu (substansi).
Harapan atas semua ini, hidup dan kehidupan tidak lain hanyalah mengharapkan keridhaan Allah SWT semoga dengannya dapat memberi manfaat bagi seluruh alam.

Saran dan masukan akan sangat memberi arti dalam menjalani amanah yang diamanahkan dalam peri kehidupan di dunia dan akherat.
Wassalam.

Walisongo

Tips belajar menulis

Tulisan ini dulu sudah pernah saya publikasikan, cuma karena  hilang maka baru sekarang sempat di upload lagi.”

Belajar menulis yang dimaksud disini adalah menulis secara umum, baik menulis konten, menulis artikel, atau menulis karangan, bukan belajar menulis bagi siswa SD.  Jadi belajar menulis disini istilahnya belajar menulis dalam tanda petik. Kebanyakan orang mengatakan memang susah untuk menulis, tidak tau apa yang harus ditulis, darimana memulai tulisan, takut kalau hasil tulisannya jelek, takut kalau tulisannya di ejek orang. Bagi yang pintar menulis, enak saja membuat tulisan, membuat tulisan artikel apa saja mudah dan enak dibaca.

Belajar menulis, kalau dibilang susah mungkin juga susah, kalau dibilang gampang mungkin juga gampang, jadi relatif. Bagi yang tidak bisa menulis pasti mengatakan susah, tapi bagi yang pintar menulis pasti mengatakan gampang. Tapi, seperti kata orang bijak, di dunia ini tidak ada yang tidak bisa dilakukan.

Read the rest of this entry »

apakah tidak kita pikirkan?!!!!

SYARAT YANG HARUS DIPENUHI DALAM IBADAH

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin

Perlu diketahui bahwa mutaba’ah (mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak akan tercapai kecuali apabila amal yang dikerjakan sesuai dengan syari’at dalam enam perkara.

Pertama : Sebab.

Jika seseorang melakukan suatu ibadah kepada Allah dengan sebab yang tidak disyari’atkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima (ditolak). Contoh : Ada orang yang melakukan shalat tahajud pada malam dua puluh tujuh bulan Rajab, dengan dalih bahwa malam itu adalah malam Mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dinaikkan ke atas langit). Shalat tahajud adalah ibadah, tetapi karena dikaitkan dengan sebab tersebut menjadi bid’ah. Karena ibadah tadi didasarkan atas sebab yang tidak ditetapkan dalam syari’at. Syarat ini -yaitu : ibadah harus sesuai dengan syari’at dalam sebab – adalah penting, karena dengan demikian dapat diketahui beberapa macam amal yang dianggap termasuk sunnah, namun sebenarnya adalah bid’ah.

Kedua : Jenis.

Artinya : ibadah harus sesuai dengan syari’at dalam jenisnya. Jika tidak, maka tidak diterima. Contoh : Seorang yang menyembelih kuda untuk kurban adalah tidak sah, karena menyalahi ketentuan syari’at dalam jenisnya. Yang boleh dijadikan kurban yaitu unta, sapi dan kambing.

Ketiga : Kadar (Bilangan).

Kalau seseorang yang menambah bilangan raka’at suatu shalat, yang menurutnya hal itu diperintahkan, maka shalat tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima, karena tidak sesuai dengan ketentuan syari’at dalam jumlah bilangan rakaatnya. Jadi, apabila ada orang shalat zhuhur lima raka’at, umpamanya, maka shalatnya tidak sah.

Keempat : Kaifiyah (Cara).

Seandainya ada orang berwudhu dengan cara membasuh tangan, lalu muka, maka tidak sah wudhunya karena tidak sesuai dengan cara yang ditentukan syari’at.

Kelima : Waktu.

Apabila ada orang yang menyembelih binatang kurban pada hari pertama bulan Dzul Hijjah, maka tidak sah, karena waktu melaksanakannya tidak menurut ajaran Islam.

Saya pernah mendengar bahwa ada orang bertaqarub kepada Allah pada bulan Ramadhan dengan menyembelih kambing. Amal seperti ini adalah bid’ah, karena tidak ada sembelihan yang ditujukan untuk bertaqarrub kepada Allah kecuali sebagai kurban, denda haji dan akikah. Adapun menyembelih pada bulan Ramadhan dengan i’tikad mendapat pahala atas sembelihan tersebut sebagaimana dalam Idul Adha adalah bid’ah. Kalau menyembelih hanya untuk memakan dagingnya, boleh saja.

Keenam : Tempat.

Andaikata ada orang beri’tikaf di tempat selain masjid, maka tidak sah i’tikafnya. Sebab tempat i’tikaf hanyalah di masjid. Begitu pula, andaikata ada seorang wanita hendak beri’tikaf di dalam mushalla di rumahnya, maka tidak sah i’tikafnya, karena tempat melakukannya tidak sesuai dengan ketentuan syari’at, Contoh lainnya : Seseorang yang melakukan thawaf di luar Masjid Haram dengan alasan karena di dalam sudah penuh sesak, tahawafnya tidak sah, karena tempat melakukan thawaf adalah dalam Baitullah tersebut, sebagaimana firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf”. [Al-Hajj : 26].

Kesimpulan dari penjelasan di atas, bahwa ibadah seseorang tidak termasuk amal shaleh kecuali apabila memenuhi dua syarat, yaitu :

Pertama : Ikhlas
Kedua : Mutaba’ah.

Dan Mutaba’ah tidak akan tercapai kecuali dengan enam perkara yang telah diuraikan tadi.

Ada tiga perkara yang tergolong musibah yang membinasakan, yaitu (i) Seorang penguasa bila kamu berbuat baik kepadanya, dia tidak mensyukurimu, dan bila kamu berbuat kesalahan dia tidak mengampuni; (2) Tetangga, bila melihat kebaikanmu dia pendam (dirahasiakan / diam saja) tapi bila melihat keburukanmu dia sebarluaskan; (3) Isteri bila berkumpul dia mengganggumu (diantaranya dengan ucapan dan perbuatan yang menyakiti) dan bila kamu pergi (tidak di tempat) dia akan mengkhianatimu.

(HR. Ath-Thabrani)

Berbicara dengan tanang

Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah

Radhiallaahu ‘anha. telah menuturkan: “Sesungguhnya Nabi

Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu

pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia

dapat menghitungnya”. (Mutta-faq’alaih).

Adab dalam kehidupan

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, untuk mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian itu seorang budak. Dan barangsiapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Karena itu wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnahnya Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Pegang erat-erat sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hati kalian dari perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru ( bid‘ah) itu sesat.” (HR. Abu Dawud no. 3991, At-Tirmidzi no. 2676, dan Ibnu Majah no. 42)

Adab Berbicara

‘Janganlah kamu berbicara mengenai sesuatu yang tidak berarti bagimu, sehingga kamu menyebabkan pihak musuh mengetahui kelemahanmu! Berhati-hatilah kamu terhadap temanmu, kecuali seseorang yang dapat dipercaya! Sedangkan orang yang bisa dipercaya hanyalah orang yang takut kepada Allah. Janganlah kamu berjalan bersama orang yang durhaka sehingga dia akan mengajarkan perbuatan yang durhaka kepadamu! Janganlah kamu membiarkan dia mengetahui rahasiamu! Janganlah kamu bermusyawarah kecuali dengan orang yang takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla!”

Hadist Tentang Cinta Rasulullah

 Allahumma salli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa sahbihi wasallam

 Rasulullah (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Orang-orang yang paling kucintai dari Ummat-ku adalah mereka yang akan datang setelah-ku, tapi setiap orang di antara mereka akan memiliki keinginan mendalam untuk sekedar melihatku sekejap, bahkan dengan mempertaruhkan keluarga dan hartanya.”

 [Sahih Bukhari, diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA]

  Read the rest of this entry »

« Older entries