Hadist Tentang Cinta Rasulullah

 Allahumma salli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa sahbihi wasallam

 Rasulullah (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Orang-orang yang paling kucintai dari Ummat-ku adalah mereka yang akan datang setelah-ku, tapi setiap orang di antara mereka akan memiliki keinginan mendalam untuk sekedar melihatku sekejap, bahkan dengan mempertaruhkan keluarga dan hartanya.”

 [Sahih Bukhari, diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA]

 

 Saat Ali K.W. melukiskan Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), ia berkata, “Beliau tidak terlalu tinggi tidak pula terlalu pendek, melainkan seorang laki-laki dengan tubuh sedang. Beliau tidak memiliki rambut yang terlalu keriting, tidak pula rambut lurus, tapi suatu campuran dari keduanya. Beliau tidak gemuk, beliau tidak memiliki wajah yang amat bulat, tapi agak bulat. Beliau berkulit putih kemerah-merahan, dan memiliki mata berwana hitam yang lebar, dan bulu mata yang panjang. Beliau memiliki sendi-sendi dan tulang belikat yang menonjol, beliau tidak memiliki banyak bulu tetapi memiliki sedikit bulu di dadanya. Sedangkan telapak tangan dan kakinya memiliki kulit yang tebal. Saat beliau berjalan, beliau menggerakkan kakinya seakan-akan beliau sedang berjalan menuruni suatu lereng; saat beliau berpaling, beliau akan memalingkan seluruh badannya. Di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian dan beliau adalah penutup para Nabi. Beliau memiliki dada yang lebih baik dari siapa pun, dan perkataannya lebih benar dari siapa pun lainnya, memiliki sifat yang paling halus dan berasal dari suku termulia. Mereka yang memandang beliau akan segera berdiri terkesima pada beliau dan mereka yang bersahabat dengan beliau mencintai beliau. Mereka yang mencuba melukiskan beliau mengatakan bahwa mereka tak pernah melihat orang seperti beliau sebelumnya maupun sesudahnya.

[MisykatTirmidzi meriwayatkannya dari Ali bin Abu Thalib KW]

“Rasulullah (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, ‘Demi Dia yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidaklah beriman seorang di antaramu hingga ia mencintaiku melebihi cintanya pada ayahnya dan pada anak-anaknya.'”

[Sahih Bukhari, diriwayatkan dari Abu Hurairah RA] 

Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Tak seorang pun di antara kalian memiliki iman sampai ia mencintaiku melebihi cintanya pada ayahnya, anak-anaknya, dan seluruh manusia.”

[Sahih Bukhari, diriwayatkan dari Anas RA].

Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Barangsiapa memiliki ketiga sifat berikut ini akan merasakan manisnya (indahnya) iman:
Ia yang mencintai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya melebihi apa pun
Ia yang mencintai seseorang dan orang itu mencintainya semata-mata demi Allah SWT
Ia yang benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci untuk dilempar ke dalam api.”

[Sahih Bukhari, diriwayatkan dari Anas RA]

“Ayahku meminta izin dari Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam). (Saat izin diberikan dan ia mendekati beliau), ayahku mengangkat baju beliau, dan mulai mencium beliau dan memeluk beliau (karena cintanya pada beliau). Ia bertanya, ‘Ya Rasulallah, hal apakah yang haram untuk menolaknya?’ Beliau menjawab, ‘Air.’ Ia kembali bertanya, ‘Ya Rasulallah, hal apakah yang haram untuk menolaknya?’ Beliau menjawab, ‘Garam’. Ia kembali bertanya, ‘Ya Rasulallah, hal apakah yang haram untuk menolaknya?’ Beliau bersabda, ‘Berbuat kebaikan adalah lebih baik bagimu.'”

[Riwayat Abu Dawud, dari Buhaysah al-Fazariyyah RA]

Rasulullah (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda padaku, “Anakku, jika engkau bisa melalui harimu dan malammu sambil menjaga kalbumu bersih dan suci dari kedengkian atas seseorang, kemudian beramal menurutnya (tujuan luhur ini).” Beliau kemudian bersabda, “Anakku, dan itulah Sunnah-ku dan siapa yang mencintai Sunnah-ku, sungguh ia telah mencintai-ku, dan siapa yang mencintai-ku, akan bersama-ku di Surga.”

[Misykatat-Tirmidzi diriwayatkan dari Anas ibn Malik RA]

Seorang lelaki berkata pada Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), “Demi Allah, ya Rasulallah, aku mencintaimu.” Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Lihatlah, apa yang kau katakan?” Lelaki itu berkata, “Demi Allah, aku mencintaimu”, dan mengulangi kalimat ini tiga kali. Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Jika engkau benar-benar mencintaiku, maka bersiaplah untuk kemiskinan, kerana kesusahan yang sangat berat berlari lebih cepat kepada orang yang mencintaiku, lebih cepat daripada banjir yang mengalir ke tujuannya.”

[Misykat, diriwayatkan dari Abdullah ibn Mughaffal RA]

Rasulullah (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) pernah suatu pagi tertahan dari melakukan solat fajar (dalam jema’ah) bersama kami sampai matahari hampir muncul di langit. Beliau kemudian datang dengan tergesa-gesa dan Iqamatus-solat dilakukan, dan beliau melakukan solat itu dengan singkat. Setelah beliau menyelesaikan solat nya dengan mengucapkan As-Salamu ‘alaykum wa Rahmatullah, beliau menyeru kepada kami dengan berkata, “Tetaplah di tempat kalian seperti saat ini.” Kemudian beliau berpaling pada kami dan bersabda, “Aku akan mengatakan pada kalian apa yang telah menahanku dari kalian (maksudnya sehingga aku tidak mampu segera bergabung dengan kalian dalam solat) di pagi ini. Aku bangun di malam hari dan berwudhu’ dan melakukan solat sebagaimana telah ditakdirkan bagiku. Aku mengantuk dalam solatku sampai akhirnya aku terjatuh tidur dan lihatlah, aku menemukan diriku di Hadirat Tuhanku, Tabaraka wa Ta’ala, dalam rupa terbaik. Ia berkata padaku, “Muhammad!” Aku berkata, “Labbaik (kupenuhi panggilan-Mu), wahai Tuhan-ku.” Ia berkata, “Terhadap apa malaikat-malaikat tertinggi ini puas?” Aku menjawab, “Aku tidak tahu.” Ia mengulanginya tiga kali. Beliau bersabda, “Kemudian aku melihatNya menaruh Telapak Tangan-Nya di antara tulang belikat sampai aku merasakan dinginnya Jari-jari-Nya di antara dua sisi dadaku. Kemudian segala sesuatunya menjadi terang bagiku dan aku dapat mengenali segalanya.” Ia berkata, “Muhammad!” Aku berkata, “Labbaika, wahai Tuhanku.” Ia berkata, “”Terhadap apa malaikat-malaikat tertinggi ini puas?” Aku menjawab, “Berkenaan dengan penebusan dosa.” Ia berkata, “Apa saja itu?” Aku menjawab, “Berjalan kaki menuju solat berjamaah, duduk di masjid setelah solat, berwudhu’ dengan sempurna sekalipun sulit.” Ia berkata lagi, “Kemudian terhadap apa mereka puas?” Aku berkata, “Berkaitan dengan tingkatan-tingkatan.” Ia berkata, “Dan apa saja itu?” Aku berkata, “Menyediakan makanan, berbicara lembut, melakukan solat saat orang-orang sedang tertidur lelap.” Ia kemudian berkata lagi pada-ku, “Mohonlah (pada Tuhanmu) dan berkatalah, ‘Ya Allah, aku memohon pada-Mu (kekuatan) untuk melakukan kebajikan, dan meninggalkan keburukan, untuk mencintai fakir miskin, sehingga Engkau ampuni aku dan melimpahkan rahmat pada-ku, dan saat Kau ingin untuk menimpakan fitnah pada orang-orang, maka Kau wafatkan diriku tanpa cela, dan aku mohon pada-Mu cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu dan cinta akan perbuatan yang membawaku mendekat pada cinta-Mu.’” Rasulullah (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Ini adalah kebenaran, maka pelajarilah dan ajarkanlah.”

[Misykat at-Tirmidzi, diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal RA]

Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Salah satu dari doa-doa Nabi Dawud AS adalah, ‘Allah, aku mohon pada-Mu cinta-Mu dan cinta mereka yang mencintai-Mu, dan perbuatan yang mendorongku menuju cinta-Mu. Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih kusukai daripada jiwaku, daripada keluargaku, dan lebih kusukai daripada air dingin.'”

[Misykat, diriwayatkan dari Abu-d Darda’ RA]

Rasulullah (sall-Allahu ‘alayhi wasallam)bersabda, “Cintailah Allah SWT atas kenikmatan yang telah Ia karuniakan padamu, dan cintailah aku karena cinta pada Allah SWT, dan cintailah keluargaku karena cinta pada-ku.”

[Misykat—at-Tirmidzi, dari ‘Abdullah ibn ‘Abbas RA]

Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) pernah suatu hari berwudhu’ dan sahabat-sahabatnya mulai membasuhkan air bekas wudhu’ beliau kepada diri mereka. Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bertanya pada mereka tentang apa yang menyebabkan mereka melakukannya, dan ketika mereka menjawab bahwa hal itu mereka lakukan karena kecintaan pada Allah Ta’ala dan utusan-Nya (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), beliau bersabda, “Jika seseorang senang untuk mencintai Allah SWT dan utusan-Nya (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), atau untuk dicintai oleh Allah SWT dan utusan-Nya (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), maka ia harus berkata benar saat ia menceritakan sesuatu, memenuhi amanahnya saat ia diberi amanah, dan menjadi tetangga yang baik.”

[Misykat–diriwayatkan dari AbdurRahman bin Abu Qurad RA]

 Sumber: http://assolehah.blogdrive.com/archive/27.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: